Bagaimana Caranya Agar Terhindar dari Sifat Malas dan Menjadi Penulis Yang Tangkas di Industri 4.0?

Bagaimana Caranya Agar Terhindar dari Sifat Malas dan Menjadi Penulis Yang Tangkas di Industri 4.0?

Terkadang ada saja hal yang membuat kamu malas saat menulis, terutama saat memikirkan ide. Iya, benar. Ide memang susah untuk didapatkan bila kamu terus-menerus mengalami overthinking. Sedangkan kamu tahu bahwa menulis membutuhkan pikiran yang kritis, sehingga apa pun yang kamu tulis akan teratur dengan strategis.

Mungkin hal itu sudah wajar ditemukan di berbagai proses menulismu. Dalam dunia kerja, memang banyak penulis yang rajin mengerjakan proyek yang diberikan oleh perusahaan, tetapi banyak juga penulis yang terkadang tertekan dengan pekerjaannya.

Layak halnya Content Writer, orang yang menulis konten inilah yang biasanya direkrut oleh perusahaan dan bekerja untuk mengembangkan Era Digital 4.0. Selain itu, tentunya dia akan mendapatkan penghasilan tetap dari perusahaan. Ini tentunya berbanding terbalik dengan content writer yang freelance.

Di samping itu, Ghost Writer juga menjadi pekerjaan yang dicari-cari oleh perusahaan. Meskipun tugas ghost writer hampir sama dengan content writer, tetapi dari segi perspektif ghost writer pasti akan tampak berbeda, karena tugasnya yang fokus pada aset perusahaan.

Ada juga yang namanya, Copy Writer. Biasanya sih tugasnya akan serupa dengan content writer yang berfokus pada pertumbuhan bisnis perusahaan. Hanya saja copy writer selalu berfokus pada kalimat-kalimat promosi yang akan ditampilkan dalam iklan perusahaan.

Untuk tugas content writer dan copy writer pasti akan berpeluang untuk digabungkan, karena kedua pekerjaan tersebut punya sisi yang berkesinambungan. Oleh karena itu, ketiga-tiga pekerjaan ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan di era digital 4.0 ini.

Terutama dalam hal sifat malas perusahaan yang bisa saja datang secara tiba-tiba. Tanpa disadari, ada sebagian perusahaan yang malas merekrut ketiga-tiga pekerjaan ini, sehingga mereka memutuskan untuk menyerahkan tugas tersebut ke karyawan yang ada.

Kejadian tersebut wajar sih. Namun, terlepas dari malasnya perusahaan, ada hal yang lebih penting lagi bagi seorang penulis untuk dapat menghilangkan rasa malasnya agar menjadi penulis yang berguna.

Sebagai penulis yang berkarier di dunia perusahaan…

Rasa malas biasanya akan hadir di saat kamu terbebani dengan tugas yang berjibun. Maka dari itu, seharusnya hal ini dapat kamu atasi segera agar rasa malas pun tidak mudah berkata apa.

Oleh karena itu, sebagai platform rekrutmen yang menggunakan teknologi, EKRUT menyediakan pekerjaan yang efisien Marketplace untukmu. Dengan peluang teknologi yang hebat, kini kamu akan mudah menjalani pekerjaan menulismu dengan semangat.

Berkat Digital Talent Recruitment yang diadakan oleh EKRUT, kini kamu akan mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passionmu. Selain itu, kamu pun akan dibimbing untuk menjadi Digital Talent yang sesungguhnya.

Apa itu Digital Talent?

Mungkin sebagian dari kamu masih bingung apa itu Digital Talent, tetapi sederhananya Digital talent adalah karyawan berbakat yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital dan memahami tentang keberadaan industri 4.0. 

Sebagai penulis yang bekerja di era industri 4.0, tentunya kamu mesti memiliki pekerjaan yang sesuai dengan bakatmu sendiri. Maka dari itu, penting bagimu untuk menentukan Talent Marketplace yang berkualitas seperti EKRUT.

Dalam artikel ini ada lima hal yang dapat kamu baca sebagai pedoman karier menulismu, tetapi yang paling penting kamu dapat mempraktikkannya untuk menghilangkan rasa malasmu. Yuk, baca konten artikelnya sekarang!

Jangan Terlalu Fokus!

Photo by Jonas Svidras from Pexels

Dalam hal penulisan, memfokuskan diri hanya pada tulisan tentunya akan membuat kamu tegang, sehingga pikiranmu terkadang sukar untuk menghadapi masalah dengan tegar. Padahal bila kamu terlalu fokus dengan pekerjaan menulismu, maka kamu pun akan mudah lelah dalam berpikir.

Seharusnya kamu dapat menenangkan pekerjaan menulismu itu dengan jalan-jalan santai. Selain itu, kamu pun akan mendapatkan beberapa inspirasi untuk tulisanmu nanti.

Sebagaimana menulis sejatinya adalah proses berpikir kritis. Jadi, untuk mendapatkan pikiran yang tajam dan kritis, tentunya kamu harus sering mengasahnya dengan hal-hal yang positif.

Mungkin selama kamu bekerja sebagai penulis, banyak hal-hal yang membuat pikiranmu negatif. Sebagaimana menulis yang baik adalah hasil dari cara berpikir yang baik.

Seperti menunda dalam hal pekerjaan adalah dampak dari terjebaknya kita dengan zona nyaman. Selain itu, kamu pun akan susah keluar dari zona nyaman, karena sudah menjadi kebiasaan.

Bangkit dari Zona Nyaman

Photo by Andrew Neel from Pexels

Selama menggeluti dunia penulisan, mungkin kamu akan selalu memanfaatkan zona nyaman sebagai alat untuk mencuri waktu.

Padahal itu tidak selamanya membuat kamu bahagia. Zona nyaman itu sementara, makanya tidak akan pernah sempurna.

Kebahagiaan itu memang positif, tetapi jangan kamu jadikan ia sebuah hal yang berdampak negatif. Ada masanya kamu bahagia, dan gak selamanya mengejar dunia adalah cita-cita. Sedikit demi sedikit, kamu pun akan merasakan bosan terhadap pekerjaanmu sebagai penulis, karena dirimu yang mengambil peluang menunda sebagai alat untuk kebahagiaan.

Menjebak diri sendiri dalam zona nyaman memang tidak ada habis-habisnya, karena ujung-ujungnya kamu akan merasa bosan. Zona nyaman tidak akan bisa kamu taklukkan selama dirimu sendiri tidak pernah dipaksakan.

Mengejar kekayaan dari hasil tulis-menulis bukanlah alasan agar kamu bisa bangkit dari zona nyaman, tetapi kerendahan hati. Bagaimana caranya kamu dapat bekerja sepenuh hati meskipun awalnya kamu belum bisa berdamai dengan diri sendiri.

Jauhkan Diri dari Rasa Bosan

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Dalam rasa bosan ini, banyak hal yang kamu temukan. Mulai dari menulis hal dengan pola yang sama, menyikapi revisi dengan suasana yang sama, hingga mengemas produk tulisan yang sama.

Mengapa semuanya terlihat sama? Ya, semuanya memang tampak sama, meskipun prosesnya ada sisi yang berbeda. Sebenarnya itulah hanya sebuah pengulangan proses yang membuat kamu bosan saat menyikapinya.

Namun, jika kamu tahu bahwa proses itulah yang membuatmu hingga saat ini bisa sukses. Kamu memang tampak jenuh saat menjalani sebuah proses, tetapi tidak untuk stres.

Terkadang kita memang sering mengeluh tentang masalah yang terjadi saat berproses, tetapi bukan berarti kita harus mengalami penurunan mental. Seharusnya mentalitas inilah yang menjadikan alasan terkuatmu dalam menulis.

Apa pun yang terjadi menulis bukanlah masalah yang terjadi, tetapi masalah hati yang membuatmu berhenti. Iya, kamu berhenti menulis, karena egomu sendiri.

Jangan Pernah Paksakan Ego Sendiri

Foto oleh Vlada Karpovich dari Pexels

Kita sepakat bahwa mentalitas memang unsur pertama yang membuat kita menjadi penulis yang seutuhnya, tetapi bukan berarti kita mesti menuruti segala keinginan yang berada di luar jangkauan kemampuan kita. Sesekali ego ini muncul dan menahan kita agar menetap di zona ternyaman.

Itu wajar, karena ego memang sifat normal manusia pada umumnya. Namun, ada hal yang mesti kamu perhatikan agar tidak mengutamakan ego saat menulis.

Bekerjalah sepenuh hati agar kamu dapat terhindar dari sifat ego sendiri. Mungkin selama ini kamu telah dibutakan oleh hiasan-hiasan kekayaan yang akan membawamu terikat dengan segala mimpi.

Namanya juga egois. Apa pun yang kita kejar di dunia ini pasti tidak akan tercapai hingga kita menemukan sikap yang tepat, yaitu sabar.

Menjadi pribadi yang sabar tentu akan sulit dilakukan untuk menaklukkan sifat malas, tetapi yakinlah bahwa sifat malas bukanlah tentang bagaimana caranya kamu dapat menjadi pribadi yang sabar, tetapi bagaimana caranya kamu dapat menjadi pribadi yang tangkas.

Menjadi Penulis Yang Tangkas

Tangkas dalam KBBI itu berarti cepat, sigap, dan gesit. Namun, cepat di sini bukan berarti kita menulis dengan cepat sehingga dapat terselesaikan dengan siap.

Akan tetapi, penulis yang tangkas adalah penulis yang mampu menyelesaikan masalahnya dengan tanggap. Artinya apa? Penulis itu tangkas bukan tentang seberapa hebatnya dia dalam menulis.

Penulis yang tangkas itu penulis yang selalu berusaha dan berjuang menggunakan waktu malasnya untuk keluar dari zona nyaman dan mendapatkan kebahagiaan. Dia tahu bagaimana caranya membahagiakan dirinya sendiri dengan memanfaatkan waktu yang ada.

Bukan sekedar mencari alasan menunda sebagai cara untuk terhindar dari pekerjaan yang berat, tetapi pekerjaan berat itulah yang mampu mengasah kemampuan seorang penulis menjadi penulis yang hebat.

Sejatinya penulis yang seutuhnya mampu memberikan manfaat tanpa menunda waktu yang terkadang sekarat. Kini tidak ada alasan bagi seorang penulis untuk menunda, yang ada hanyalah penulis yang suka bercanda.

Sebelum menutup konten artikel ini…

Ada dua trik bonus lagi nih buat kamu yang ingin menjadi penulis yang tangkas. Sebagaimana penulis yang tangkas adalah penulis yang tidak mampu menunda pekerjaannya sebelum dia mengetahui alasan yang sebenarnya.

Tidak Ada Alasan Untuk Menunda

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Ya, inilah yang harus dipertimbangkan seorang penulis untuk memiliki sikap yang tangkas. Ada yang bilang bahwa jika kita menunda itu tergantung alasannya jelas atau tidaknya.

Namun…

“Apakah dalam hal menulis teori di atas tetap sama?”

“Bagaimana jikalau menunda dalam hal menulis menjadikan tulisanmu terbengkalai hingga punah?”

“Bagaimana jikalau kamu menunda disebabkan ide atau inspirasi yang tidak selaras atau tiba-tiba berubah?”

Untuk menjawab ketiga-tiga pertanyaan ini memang tampak tidak sesederhana itu, mungkin pun jawabannya akan sangat panjang bila tidak diringkas sesederhana mungkin. Begitu pun persepsi kita dalam menulis, terkadang sering memikirkan hal-hal yang berbau kekhawatiran dibandingkan menulis langsung dengan keleluasaan.

Pada dasarnya, menunda itu memang tergantung. Iya, tergantung cara kita menyikapinya.

Sedangkan menunda disebabkan alasan ide yang tak sejalan hingga mampu berujung punah, maka itu kembali lagi kepada diri kita sendiri. Apakah menunda itu membuat kita tetap royal pada tulisan kita dan menjadikan ide kita lebih baik lagi, atau sebaliknya?

Paksakan atau Tinggalkan!

Banyak orang yang bilang jikalau kita ingin konsisten menulis tanpa menunda atau beralasan, maka kamu harus memaksakannya atau meninggalkannya. Sebenarnya menulis dengan paksa di sini bukan karena kita gak punya ide, tetapi cara berpikir kita yang terkadang menurun kualitasnya.

Kita tetap menulis, karena kita ingin konsisten dan menghilangkan sikap menunda. Bukan sekedar menulis seadanya, tetapi menulislah karena ada apanya.

Menulis itu tidak seperti cinta yang seadanya dan menutup alasan “Ada apanya,” karena terkesan tidak ikhlas. Seharusnya dengan menulis kita sadar bahwa banyak ide dan masalah yang mesti kita selesaikan, bukan yang penting tulisan.

Dengan begitu kita sadar bahwa menulis bukan sekedar tulisan, tetapi kebermanfaatan yang membawa kita ke jalan yang Allah takdirkan. Maka dari itu, menulislah dengan sepenuh hati agar tulisanmu pun akan diterima dengan berharga dan bernilai tinggi.

Menulis itu bukan tentang kekayaan yang memberikanmu kekuasaan, tetapi menulis itu tentang perasaan yang akan memberimu sebuah keyakinan.

Hizbun FAY

Namun, bagaimana jika kamu sudah memiliki kemampuan menulis, tetapi belum mempunyai pekerjaan yang akan membiayai tulisanmu itu setiap kali terbit? EKRUT-lah solusinya.

Bersama EKRUT, kamu akan mendapatkan program beasiswa intensif yang terbuka bagi lulusan SMK, D3, D4, S1, pelaku industri dan ASN/PNS/TNI/ Polri untuk melakukan upskilling atau reskilling. 

Mulai dari pelatihan tentang soft skill development, uji kompetensi/ sertifikasi, pelatihan technical skills dan masih banyak lagi. Kamu dapat mengasah kemampuan dan ketrampilanmu secara langsung bersama EKRUT.

Yuk, gabung bersama EKRUT sekarang!

Terima kasih telah setia membaca konten artikel ini sampai habis. Bila kamu merasa konten ini bermanfaat, maka sangat diharapkan agar terus dibagikan manfaatnya kepada banyak orang.

Namun, bila kamu merasa tulisan masih merasa banyak kekurangan atau pun kesalahan, maka sangat diharapkan kritikan dan saranmu di kolom komentar. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

#EKRUTblogcompetition #carabarucarikerja #EKRUT #EKRUTdigitaltalent

Referensi:

https://www.ekrut.com/media/digital-talent-adalah

https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/tangkas.html

Tinggalkan Balasan