Menulis Untuk Kebermanfaatan

Berawal dari sebuah angan-angan yang terlahir di tengah berlangsungnya kuliah, aku selalu berharap untuk memiliki beberapa karya yang akan kumenggarisbesarkan sebagai wasiat ketika rambutku sudah berabun, hingga akhirat kelak. Arti menulis bagiku adalah wujud hobi dan berbagi sesama, bahkan hiburan untuk disenangi bersama. Sebenarnya menulis bisa lebih dari itu, aku yakin kubisa menjelajah bersamanya hingga akhir waktu.

Aku menulis bukan untuk menegakkan keadilan, karena aku bukan polisi yang selalu menjaga lalu lintas. Namun, menulis itu untuk menegakkan kebersamaan agar kita dapat saling berbagi ilmu dan menjadi Amal Jariyah hingga hayat kelak. Melalui pena ini kusampaikan tekadku, bukan main-main tulisanku. Melalui perasaan suka dan duka ini kusampaikan bahwa mimpiku bukan sebatas khayalan fiksi.

Aku percaya setiap keajaiban, menulis adalah sebagian mimpiku yang belum terselesaikan. Aku percaya kepada seluruh pengalaman yang kugoreskan, menulis yang kukejar bukanlah harapan semata-mata mendapatkan pujian. Namun, lebih dari itu. Tulisan yang kucitrakan selalu kuniatkan untuk para pembaca yang masih bermimpi panjang dan kurasa mereka punya feel tersendiri untuk mengutarakan seluruh tulisan.

Bukanku egois, aku tahu banyak penulis di luar sana yang lebih hebat daripada diriku. Bukan maksudku untuk menyerah, menulis membutuhkan jangka panjang yang tidak ada habisnya untuk dipertanggung jawabkan. Tulisan adalah tujuanku untuk merangkum berbagai ilmu yang akan kujadikan sebagai karya dan bermanfaat bagi pembacanya.

Percaya diri itu penting, karena kupercaya pada setiap huruf, kata, kalimat bahkan paragraf yang kutuliskan kepada orang lain itu bermanfaat walau hanya sebagian. Kalimat itu bermakna, apabila kita menuliskannya pakai hati, secerdas apa pun, karena kita punya pikiran yang kritis, maka tidak akan bisa mengalahkan yang bisa memberikan hipnotis di setiap keadaan.

Intinya menulis itu sangat penting, tegarnya kehidupan ini selalu membuat kita mengeluhkan dengan kata-kata, hingga banyak orang memberi kita solusi tentang permasalahan yang kita alami. Akhirnya, menulis itu pun menjadi sebuah respect kita kepada orang-orang di saat mulut kita tak mampu berkata-kata lagi.